Loading...

Kerajaan Banten: Sejarah, Silsilah, Raja, Kehidupan, Keruntuhan dan Peninggalan

Kerajaan Banten: Sejarah, Silsilah, Raja, Kehidupan, Keruntuhan dan Peninggalan

Kerajaan Banten – atau yang lebih tepatnya disebut Kesultanan Banten. Merupakan sebuah kerajaan islam yang dulu pernah berdiri di Tatar Pasundan, Provinsi Banten. Kali ini Majelisguru akan membahas secara lengkap dan tuntas mengenai sejarah kerajaan Banten, Raja-raja di Kerajaan Banten, Kehidupan Politik, Kehidupan Ekononi, Kehidupan Sosial dan Budaya , serta Peninggalan Kerajaan Banten yang bisa kita temui hingga saat ini.


A. Sejarah Kerajaan Banten

Sekitar awal abad ke 16, Kerajaan Pajajaran tepatnya di Pakuan (sekarang disebut kota bogor) merupakan pusat kerajaan dengan agama Hindu. Pajajaran memiliki tiga bandar penting yang berkuasa yakni di kota banten, sunda kelapa ( jakarta ) dan cirebon.

Kesultanan Banten
1526–1813
bendera kesultanan banten
Bendera kesultanan banten
lambang kesultanan banten
Lambang kesultanan banten
Wilayah kekuasaan Banten pada masa Maulana Hasanuddin yang menguasai Selat Sunda
Wilayah kekuasaan Banten pada masa Maulana Hasanuddin yang menguasai Selat Sunda
Ibu Kota Surosowan, Banten Lama, Kota Serang
Bahasa Bahasa Sunda, Bahasa Banten, Melayu, Arab
Agama Islam Hindu
Bentuk Pemerintahan Kesultanan
Sebelum jadi Kerajaan Banten Kerajaan Sunda Kesultanan Cirebon
Sesudah Kerajaan Banten Hindia Belanda

Saat itu, Kerajaan Pajajaran sudah melakukan kerjasama dengan bangsa portugis. Oleh sebab itu Portugis diperbolehkan untuk membangun benteng pertahanan dan kantor perdagangan di Sunda Kelapa.

Supaya pengaruh Portugis tidak merembet ke kerajaan, Sultan Trenggono dari Demak mengutus dan memerintahkan fatahilah selaku panglima perang Demak untuk menaklukan bandar-bandar yang ada di Pajajaran. Di tahun 1526 pasukan Armada Demak berhasil menguasai Banten.

Setahun setelah berhasil menaklukan Banten, tepatnya tanggal 22 Juni 1527. Fatahilah kembali berhasil menaklukkan pelabuhan Sunda Kelapa yang saat itu juga nama “Sunda Kelapa” diganti menjadi “Jayakarta” atau “Jakarta” yang berarti kota kemenangan. Oleh sebab itu tanggal 22 Juni dijadikan sebagai hari jadinya kota Jakarta.

Dengan kurun waktu yang relatif singkat, seluruh daerah pantai utara Jawa Barat berhasil di kuasai oleh Fatahilah. Dengan begitu ajaran agama islam menyebar ke daerah Jawa Barat. Fatahilah pun di angkat menjadi ulama besar (wali) dengan gelar sunan gunung jati dan ditugaskan memimpin daerah Cirebon.

Tahun 1552 Hasanudin yang tak lain adalah putra dari Fatahilah di angkat menjadi raja Kerajaan Banten. Sedangkan putranya yang lain, Pasarean di angkat sebagai penguasa di Cirebon. Fatahilah kemudian mendirikan pusat kegiatan keagamaan di gunung jati, cirebon sampai beliau wafat pada tahun 1568.

Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa pada awalnya Kerajaan Banten adalah wilayah kekuasaan Kerajaan Demak.

B. Silsilah Kerajaan Banten

Setiap orang pasti memiliki silsilah keluarga sendiri sebagai penanda asal usul mereka. Begitu pula dengan suatu kerajaan yang juga memiliki silsilah keluarga kerajaan di dalamnya. Silsilah Kerajaan ini di ambil sejak awal berdirinya Kerajaan Banten dan akhir Kerajaan Banten. Berikut adalah silsilah Kerajaan Banten dari generasi ke generasi.

1. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)

Memiliki Keturunan:
  • Ratu Pembayun,
  • Pangeran Pasarean,
  • Pangeran Jayalalana,
  • Maulana Hasanuddin,
  • Pangeran Bratakelana,
  • Ratu Winaon,
  • Pangeran Turusmi.

2. Maulana Hasanuddin – Panembahan Surosowan (1522-1570)

Memiliki Keturunan:
  • Ratu Pembayun Fatimah,
  • Maulana Yusuf,
  • Pangeran Arya Jepara,
  • Pangeran Suniararas,
  • Pangeran Pajajaran,
  • Pangeran Pringgalaya,
  • Pangeran Sabrang Lor,
  • Ratu Keben,
  • Ratu Terpenter,
  • Ratu Biru,
  • Ratu Ayu Arsanengah,
  • Pangeran Pajajaran Wado,
  • Tumenggung Wilatikta,
  • Ratu Ayu Kamudarage,
  • Pangeran Sabrang Wetan.

3. Maulana Yusuf – Panembahan Pakalangan Gede (1570-1580)

Memiliki Keturunan:
  • Pangeran Arya Upapati,
  • Pangeran Arya Adikara,
  • Pangeran Arya Mandalika,
  • Pangeran Arya Ranamanggala,
  • Pangeran Arya Seminingrat,
  • Ratu Demang,
  • Ratu Pacatanda,
  • Pangeran Manduraraja,
  • Pangeran Widara,
  • Ratu Belimbing,
  • Maulana Muhammad.

4. Maulana Muhammad Pangeran Ratu Ing Banten (1580-1596)

Memiliki Keturunan:
  • Pangeran Abdul Mufakir Mahmud Kadir Kenari (Sultan Abdul Kadir)

5. Sultan Abdul Kadir (1596-1647)

Memiliki Keturunan:
  • Sultan Abul Maali Ahmad Kenari (putra mahkota),
  • Ratu Dewi, Ratu Ayu,
  • Pangeran Arya Banten,
  • Ratu Mirah, Pangeran Sudamanggala,
  • Pangeran Ranamanggala,
  • Ratu Belimbing,
  • Ratu Gedong,
  • Pangeran Arya Manduraja,
  • Pangeran Kidul,
  • Ratu Dalem,
  • Ratu Lor,
  • Pangeran Seminingrat,
  • Ratu Kidul,
  • Pangeran Arya Wiratmika,
  • Pangeran Arya Danuwangsa,
  • Pangeran Arya Prabangsa,
  • Pangeran Arya Wirasuta,
  • Ratu Gading,
  • Ratu Pandan,
  • Pangeran Arya Wiraasmara,
  • Ratu Sandi,
  • Pangeran Arya Adiwangsa,
  • Pangeran Arya Sutakusuma,
  • Pangeran Arya Jaya Sentika,
  • Ratu Hafsah,
  • Ratu Pojok,
  • Ratu Pacar,
  • Ratu Bangsal,
  • Ratu Salamah,
  • Ratu Ratmala,
  • Ratu Hasanah,
  • Ratu Husaerah,
  • Ratu Kelumpuk,
  • Ratu Jiput,
  • Ratu Wuragil.

6. Sultan Abul Maali Ahmad Kenari (1647-1651)

Memiliki Keturunan:
  • Abul Fath Abdul Fattah,
  • Ratu Penenggak,
  • Ratu Nengah,
  • Pangeran Arya Elor,
  • Ratu Wijil Ratu Puspita.

7. Sultan Ageng Tirtayasa Abul Fath Abdul Fattah (1651-1682)

Memiliki Keturunan:
  • Sultan Haji,
  • Pangeran Arya Abdul Alim,
  • Pangeran Arya Ingayudadipura,
  • Pangeran Arya Purbaya.
  • Pangeran Sugiri
  • Tubagus Rajasuta
  • Tubagus Rajaputra
  • Tubagus Husaen
  • Raden Mandaraka
  • Raden Saleh
  • Raden Rum
  • Raden Mesir
  • Raden Muhammad
  • Raden Muhsin
  • Tubagus Wetan
  • Tubagus Muhammad ‘Athif
  • Tubagus Abdul
  • Ratu Raja Mirah
  • Ratu Ayu
  • Ratu Kidul
  • Ratu Marta
  • Ratu Adi
  • Ratu Ummu
  • Ratu Hadijah
  • Ratu Habibah
  • Ratu Fatimah
  • Ratu Asyiqoh
  • Ratu Nasibah
  • Tubagus Kulon

8. Sultan Abu Nasr Abdul Kahhar-Sultan Haji (1683-1687)

Memiliki Keturunan:
  • Sultan Abdul Fadhal,
  • Sultan Abul Mahasin,
  • Pangeran Muhammad Tahir,
  • Pangeran Fadluddin.
  • Pangeran Ja’farrudin
  • Ratu Muhammad Alim
  • Ratu Rohimah
  • Ratu Ratu Hamimah
  • Pangeran Ksatrian
  • Ratu Mumbay

9. Sultan Abudul Fadhl (1687-1690)

  • tidak memiliki putra

10. Sultan Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733)

Memiliki Keturunan:
  • Sultan Muhammad Syifa
  • Sultan Muhammad Wasi’
  • Pangeran Yusuf
  • Pangeran Muhammad Shaleh
  • Ratu Samiyah
  • Ratu Komariyah
  • Pangeran Tumenggung
  • Pangeran Ardikusuma
  • Pangeran Anom Mohammad Nuh
  • Ratu Fatimah Putra
  • Ratu Badriyah
  • Pangeran Manduranegara
  • Pangeran Jaya Sentika
  • Ratu Jabariyah
  • Pangeran Abu Hassan
  • Pangeran Dipati Banten
  • Pangeran Ariya
  • Raden Nasut
  • Raden Maksaruddin
  • Pangeran Dipakusuma
  • Ratu Afifah
  • Ratu Siti Adirah
  • Ratu Safiqoh
  • Tubagus Wirakusuma
  • Tubagus Abdurrahman
  • Tubagus Mahaim
  • Raden Rauf
  • Tubagus Abdul Jalal
  • Ratu Hayati
  • Ratu Muhibbah
  • Raden Putera
  • Ratu Halimah
  • Tubagus Sahib
  • Ratu Sa’idah
  • Ratu Satijah
  • Ratu A’dawiyah
  • Tubagus Syarifuddin
  • Ratu ‘Afiyah Ratnaningrat
  • Tubagus Jamil
  • Tubagus Sa’jan
  • Tubagus Haji
  • Ratu Thobiyah
  • Ratu Khairiyah Kumudaningrat
  • Pangeran Rajaningrat
  • Tubagus Jahidi
  • Tubagus Abdul Aziz
  • Pangeran Rajasantika
  • Tubagus Kalamudin
  • Ratu Siti Sa’ban Kusumaningrat
  • Tubagus Abunasir
  • Raden Darmakusuma
  • Raden Hamid
  • Ratu Sifah
  • Ratu Minah
  • Ratu ‘Azizah
  • Ratu Sehah
  • Ratu Suba/Ruba
  • Tubagus Muhammad Said

11. Sultan Muhammad Syifa’ Zainul Arifin (1733-1750)

Memiliki Keturunan:
  • Sultan Muhammad Arif
  • Ratu Ayu
  • Tubagus Hasanuddin
  • Raden Raja Pangeran Rajasantika
  • Pangeran Muhammad Rajasantika
  • Ratu ‘Afiyah
  • Ratu Sa’diyah
  • Ratu Halimah
  • Tubagus Abu Khaer
  • Ratu Hayati
  • Tubagus Muhammad Shaleh

12. Sultan Syarifuddin Artu Wakil (1750-1752)

  • tidak berputra

13. Sultan Muhammad Wasi’ Zainul ‘Alimin (1752-1753)

  • tidak berputra

14.Sultan Muhammad ‘Arif Zainul Asyikin (1753-1773)

Memiliki Keturunan:
  • Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliyudin
  • Sultan Muhyiddin Zainusholihin
  • Pangeran Manggala
  • Pangeran Suralaya
  • Pangeran Suramanggala

15. Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliyudin

Ia berputra:
  • Sultan Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin
  • Sultan Agilludin
  • Pangeran Darma
  • Pangeran Muhammad Abbas
  • Pangeran Musa
  • Pangeran Yali
  • Pangeran Ahmad

16. Sultan Muhyiddin Zainusholihin (1799-1801)

Ia berputra:
  • Sultan Muhammad Shafiuddin

17. Sultan Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802)
18. Sultan Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1802)
19. Sultan Agilludin – Sultan Aliyudin Il (1803-1808)
20. Sultan Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809)
21. Sultan Muhammad Syafiuddin (1809-1813)
22. Sultan Muhammad Rafiuddin (1813-1820)


C. Syiar Islam di Banten dan Pendirian Kesultanan Banten

Di awal-awal kedatangannya ke Cirebon, Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) bersama Pangeran Walangsungsang sempat mensyiarkan ajaran islam di wilayah Banten yang pada waktu itu di sebut sebagai Wahanten.

Dalam syiarnya, syarif hidayatullah menjelaskan bahwa arti jihad (perang) bukan hanya perang melawan musuh-musuh namun juga perang melawan hawa nafsu. Syiarnya inilah yang kemudian mendapat tempat di hati masyarakat Wahanten dan pucuk umum (penguasa) Wahanten Pesisir.

Saat itu wilayah Wahanten memiliki dua penguasa yakni sang Surosowan (anak prabu Jaya Dewata atau Silih Wangi) penguasa wilayah Wahanten Pesisir. Kemudian Arya Suranggana menjadi penguasa Wahanten Girang.

Kemudian Syarif Hidayatullah bertemu Nyai Kawung Anten (Putri dari Sang Surosawon) di wilayah Wahanten Pesisir. Mereka kemudian menikah dan dikaruniai dua orang anak yakni Ratu Winaon (1477 m) dan Pangeran Maulana Hasanuddin (1478 m) (Pangeran Sabakingkin : nama pemberian kakeknya sang Surosowan).

Meskipun Sang Surosowan tidak memeluk ajaran islam, namun ia sangat toleran dengan para pemeluk islam yang datang ke wilayahnya.

Syarif Hidayatullah kemudian kembali ke Cirebon untuk menerima tanggung jawab sebagai penguasa Kesultanan Cirebon pada tahun 1479. Dimana sebelumnya ia menghadiri rapat para wali di Tuban yang menghasilkan kesepakatan bahwa ia sendiri (Sunan Gunung Jati) sebagai pemimpin dari para wali.

D. Penguasaan Banten

Pada tahun 1522, Maulana Hasanuddin membangun komplek istana yang diberi nama Keraton Surosowan. Selain itu ia juga membangun beberapa fasilitas lain seperti alun-alun, pasar, masjid agung dan juga masjid di kawasan Pacitan.

Sementara itu yang menjadi penguasa di Wahanten Pesisir adalah putri dari Sang Surosowan dan Paman dari Maulana Hasanuddin yang bernama Arya Surajaya sampai tahun 1526 M.

Pada tahun 1524 M, Sunan Gunung Jati bersama para pasukan gabungan dari kesultanan Cirebon dan juga Kesultanan Demak berlabuh di pelabuhan Banten. Saat itu, tidak ada keterangan yang menyatakan bahwa pelabuhan Wahanten Pesisir menghalangi kedatangan pasukan tersebut, sehingga pasukan fokus untuk merebut Wahanten Girang.

Menurut catatan sejarah Banten, ketika pasukan berusaha mencapai pelabuhan Wahanten Girang, Ki Jongjo (Kepala Prajurit) dengan sukarela memihak kepada Maulana Hasanuddin. Dari sumber sejarah lain menyebutkan bahwa penguasa Wahanten Girang merasa terganggu dengan adanya aktifitas dakwah Maulana Hasanuddin yang dapat menarik simpati masyarakat.

Dengan begitu, Arya Suranggana selaku penguasa memintan Maulana Hasanuddin untuk segera menghentikan aktifitas dakwahnya serta menantangnya untuk duel sabung ayam (adu ayam). Duel ini memilik syarat, jika pertrungan dimenangkan oleh Arya Suranggana maka Maulana Hasanuddinn harus menghentikan aktifitas dakwahnya dan sebaliknya.

Alhasil, pertarungan dimenangkan oleh Maulana Hasanuddin dan diapun dapat melanjutkan aktifitas dakwahnya. Arya Suranggana dan rakyatnya tetap menolak untuk masuk agama islam dan lebih memilih tinggal di dalam hutan wilayah selatan. Wilayah sepeninggalan Arya Suranggana, kompleks Banten Girang dimanfaatkan sebagai tempat pesanggrahan bagi para penguasa islam hingga akhir abad ke 17.

E. Banten Sebagai Kesultanan


Banten Sebagai Kesultanan

Di tahun 1552, Sunan Gunung Jati mengangkat putranya Maulana Hasanuddin sebagai Sultan di Banten. Di bawah kepemimpinannya Kesultanan Banten menjadi kesultanan yang mandiri. Maulana Hasanuddin juga memperluas kekuasaan kerajaan hingga ke daerah Lampung.

Ia juga tak lupa untuk tetap menyiarkan agama islam dan juga melakukan kegiatan berdagang dengan raja Malangkabu (Kerajaan Iderapura) yang bernama Sultan Munawar Syah. Sebagai tanda persahabatan Sultan Munawar memberikan keris kepada Maulana Hasanuddin.

Kemudian di tahun 1570, Maulana Yusuf putra dari Maulana Hasanuddin menggantikan tahta ayahnya dan melanjutkan kegiatan ke daerah pedalaman Sunda dengan menguasai seluruh pedalaman Sunda pada tahun 1579.

Masa kekuasaan maulana Yusuf pun berakhir dan digantikan oleh putranya yang bernama Maulana Muhammad. Ia mencoba untuk menaklukkan Palembang di tahun 1596 sebagai bagian upaya Kerajaan Banten untuk mempersempit gerakan Portugal di Nusantara. Akan tetapi, misi ini gagal dikarenakan beliau tewas saat sedang menjalankan misinya ini.

Kemudian tahta kerajaan diberikan kepada anak dari Maulana Muhammad yakni Pangeran Ratu. Sang Ratu menjadi raja pertama di Pulau Jawa yang memiliki gelar “Sultan” pada tahun 1638 dengan nama arab Abu al-Mafakhir Mahmud Abdulkadir.

Pada masa inilah Kesultanan Banten sudah mulai secara intensif melakukan hubungan diplomasi dengan kekuatan lain yang ada di masa itu. Salah satu buktinya dapat diketahui dari surat Sultan Banten kepada Raja Inggris, James I tahun 1605 dan tahun 1629 kepada Charles I.

1. Kehidupan Politik Kerajaan Banten

Awal mula Kerajaan Banten adalah bagian dari Kerajaan Demak. Akan tetapi, Kerajaan Demak mengalami kemunduran dan Banten memutuskan untuk memisahkan diri dari pengaruh kekuasaan Demak.

Banten berubah dari Kerajaan menjadi kesultanan pada masa Sultan Hasanuddin yang tak lain adalah putra dari Fatahillah (Sunan Gunung Jati). Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, Banten berkembang sangat pesat dan menjadi pusat perdagangan. Hal ini disebebkan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511) yang membuat para pedagang muslim memindahkan jalur perdagangannya melalui selat Sunda.

Sultan Hasanuddin juga memperluas kekuasaan Banten sampai ke daerah penghasil lada yakni Lampung, Sumatera Selatan. Dengan begitu, ia sudah meletakkan dasar-dasar dari kemakmuran Banten sebagai pusat pelabuhan. Di tahun 1570, Sultan Hasanuddin wafat.

Beliau digantikan oleh Maulana Yusuf (1570-1580) putra dari Sultan Hasanuddin. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Banten berhasil menaklukkan dan menguasai Kerajaan Pajajaran (Hindu) pada tahun 1579.

Dengan begitu, para pengikut setia Kerajaan Pajajaran menyingkir ke pedalaman daerah Banten Selatan. Sekarang mereka dikenal dengan sebutan Suku Badui. Setelah ditaklukkannya Pajajaran, para kalangan elit Sunda memeluk ajaran Agama Islam.

Setelah Maulana Yusuf wafat, beliau digantikan oleh putranya Maulana Muhammad (1580-1596). Di akhir masa kekuasaannya, Maulana Muhammad menyerang Kesultanan Palembang. Dalam misinya ini beliau tewas dan dilanjutkan oleh putra mahkotanya bernama Pangeran Ratu.

Banten akhirnya mencapai puncak kejayaan di masa pemerintahan putra Pangeran Ratu yakni Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682). Sultan Ageng sangat menentang pengaruh kekuasaan Belanda. Ia berusaha untuk mengalahkan orang-orang Belanda yang membentuk VOC dan menguasai pelabuhan Jayakarta. Setalah kemunduran Sultan Ageng dari tahta dan digantikan putra nya Sultan Haji, Banten mulai mengalami kemunduran akibat dipengaruhi dan campur tangan Belanda.

2. Kehidupan Ekonomi Kerajaan Banten

Pada masa kejayaannya, Kerajaan Banten dapat berkembang menjadi pusat perdagangan dan pusat syiar agama islam. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor yakni:

  1. Letak dan lokasi yang strategis dalam lalu lintas perdagangan.
  2. Peristiwa jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, membuat para pedagang islam tidak lagi singgah di Malaka dan langsung menuju banten atau melewati Selat Sunda.
  3. Banten memiliki sumber daya penting yakni lada.

Oleh sebab itu, Banten banyak dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari Arab, Gujarat, Persia, Turki, Cina, dan lainnya. Karena menjadi tempat persinggahan dagang, terbentuklah perkampungan-perkampungan menurut asal bangsa itu, seperti orang arab mendirikan Kampung Pakojan, Orang Cina mendirikan Kampung Pacinan, orang Indonesia mendirikan kampung Banda dan Kampung jawa.

3. Kehidupan Sosial dan Kebudayaan Kerajaan Banten

Setelah Banten di Islamkan oleh Fatahillah (Sunan Gunung Jati) tahun 1527), kehidupan sosial di masyarakat berangsur-angsur mulai dilandaskan ajaran-ajaran islam. Setelah kerajaan Pajajaran ditaklukkan oleh Banten, pengaruh Islam semakin kuat di daerah pedalaman.

Para pengikut kerajaan Pajajaran memilih pindah ke pedalaman dan tidak mau memeluk islam. Mereka pindah ke daerah pedalaman di Banten Selatan, mereka di kenal dengan Suku Badui. Mereka memiliki kepercayaan yang disebut Pasundan Kawitan yang artinya Pasundan yang pertama. Mereka sangat mempertahankan tradisi-tradisi lama dan menolak ajaran Islam.

Meskipun ada perbedaan agama di Banten, para Sultan sangat menjunjung tinggi sikap toleransi. Kehidupan sosial masyarakat Banten di masa Sultan Ageng Tirtayasa cukup baik, sebab beliau sangat memerhatikan kehidupan dan kesejahteraan rakyatnya. Sejak meninggalnya Sultan Ageng, dan ditambah campur tangan Belanda dalam berbagai aspek kehidupan membuat Kerajaan Banten mengalami kemunduran.

Seni budaya Kerajaan Banten bisa kita temukan pada bangunan-bangunan yang ada di Kerajaan Banten. Seperti Masjid Agung Banten, bangunan Gapura di Kaibon Banten, dan bangunan-bangunan peninggalan Belanda.

4. Kehidupan Agama Kerajaan Banten

Masa awal Kerajaan Banten di pengaruhi oleh kerajaan yang membawa keyakinan Hindu Budha, seperti Tarumanegara, Sriwijaya dan Kerajaan Sunda. Setelah Kerajaan Banten berdiri sendiri di bawah kepemimpinan Fatahillah, mulailah masuk ajaran Islam.

Fatahillah bersama putranya Maulana Hasanuddin melakukan syiar islam secara intensif kepada penguasa Banten Girang dan penduduknya. Di masa Maulana Yusuf, penyebaran agama islam menjadi lebih mudah setelah penaklukkan Pajajaran.

Karena menganut ajaran islam, bentuk pemerintahan kerajaan banten berubah menjadi Kesultanan. Islam menjadi pilar berdirinya Kesultanan Banten, para Sultan Banten dirujuk mempunyai silsilah sampai kepada Nabi Muhammad dan menempatkan para ulama sebagai pemilik pengaruh besar dalam masyarakat.

Toleransi umat beragama di Banten juga sangat baik. Walaupun di dominasi oleh Muslim, agama lain masih diperbolehkan untuk membangun tempat peribadatan mereka. Sebagai bukti bentuk toleransi itu, bisa ditemukan beberapa klenteng atau wihara pada kawasan sekitar banten.

F. Masa Kejayaan Kerajaan Banten

Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa pemerinthan Abu Fath Abdul Fatah atau yang dikenal dengan sebutan Sultan Ageng Tirtayasa. Pada masa itu, pelabuhan Banten menjadi pelabuhan internasional yang sangat berdampak pada perekonomian kerajaan yang menjadi maju dengan pesat.

Saat itu juga kekuasaan Kerajaan Banten semakin meluas meliputi sisa kerajaan Sunda yang tidak direbut oleh kesultanan Mataram serta wilayah Provinsi Lampung. Kesultanan Banten juga melakukan hubungan internasional dengan menggunakan jalur laut dan membuat Kerajaan Banten mencapai masa keemasan.

Saat kepemimpinannya, ia juga pernah mengirim dua orang pengikutnya untuk berkunjung ke Inggris sebagai duta besar disana dan membeli persenjataan. Tak hanya pandai dalam menjalin hubungan kerjasama dengan Inggris, Sultan Ageng Tirtayasa juga berhubungan baik dengan Aceh, Makasar, India, Mongol, Turki, dan Arab.

Menurut sejarah, para penguasa Banten pernah pergi bersama-sama ke Arab untuk menunaikan ibadah haji kemudian dilanjutkan ke Inggirs untuk menunaikan tugas sebagai utusan dengan menggunakan kapal pedagang Inggris.

Sebagai sultan ke 6, ia menegaskan bahwa menentang semua penjajahan bangsa asing atas negaranya. Ia tidak ingin berkompromi dengan pihak Belanda sehingga di tahun 1645 hubungan antara Banten dan Belanda semakin memanas.

Di tahun 1656 pasukan kerajaan Banten bergeriliya ke daerah Batavia. Setahun setelh itu, pihak Belanda menawarkan perjanjian damai kepada kerajaan Banten. Perjanjian tersebut ternyata hanya menguntungkan pihak Belanda, perjanjian ini ditolak dan tahun 1580 perang besar terjadi antara Banten dan Belanda. Perang berakhir pada tanggal 10 juli 1659 dengan ditanda tanganinya sebuah perjanjian gencatan senjata.

Sultan Ageng Tirtayasa memiliki seorang anak bernama Abdul Kohar, ia di angkat menjadi putra mahkota pada tanggal 16 februari 1671 dengan gelar Sunan Abu Nasr Abdul Kohar yang lebih dikenal sebagai Sultan Haji.

Pengangkatan putra mahkota ini justru dimanfaatkan oleh pihak Belanda untuk mengadu domba. Sultan Haji memiliki keinginan untuk berdamai dengan Belanda dengan cara mengirimkan surat pada tahun 1680 serta menyatakan bahawa dirinya adalah penguasa Banten sepenuhnya, bukan lagi Sultan Ageng Tirtayasa

26 februari 1682, Sultan Ageng Tirtayasa menyerbu Surosowan yang merupakan tempat tinggal Sultan Haji. Serangan ini berhasil, akan tetapi Surosowan direbut oleh pihak Belanda di bawah kepemimpinan Kpaten Tack. Kemudian pemerintahan Banten dipegang oleh Sultan Haji.

Sultan Haji menginggal dunia, terjadilah perebutan kekuasaan diantara putranya. Hal ini disebabkan oleh campur tangan dari Belanda. Sejak saat itu sering terjadi gonta ganti Sultan dan Kesultanan Banten mulai mengalami kemunduran.

Puncak kemunduran ini terjadi pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Syarifuddin. Beliau di paksa turun dari tahtanya dan Kesultanan Banten dihapus oleh pemerintahan Inggris yang dimana menggantikan Belanda di daerah Banten di bawah pemerintahan Gubernur Jendral Raffles. Saat itulah Kesultanan Banten runtuh dan berakhir.

G. Perang Saudara di Kerajaan Banten

Di tahun 1680 timbul sebuah perselisihan antar keluarga kerajaan Banten yang diakibatkan oleh masalah perebutan kekuasaan. Perselisihan dan pertentangan ini terjadi diantara Sultan Ageng dengan putranya yang bernama Sultan Haji.

Situasi ini kemudian dimanfaatkan oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) untuk mengadu domba dengan dalih memberikan dukungan kepada Sultan Haji. Dengan begitu perang saudarapun tidak dapat terelakkan.

Untuk memperkuat posisinya, sultan Haji sempat mengirim dua orang utusannya untuk menenui Raja Inggirs di London pada tahun 1682 untuk meminta bantuan persenjataan. Perang dingin ini membuat Sultan Ageng terpaksa mundur dari istananya dan pindah ke kawasan Tirtayasan. Sayangnya, di tanggal 28 desember 1682 kawasan itu justru dikuasai oleh Sultan Haji bersama VOC.

Sultan Ageng beserta putranya yang lain pindah ke arah selatan pedalaman Sunda, dan pada tanggal 14 Maret 1683 Sultan Ageng tertangkap dan ditahan di wilayah Batavia. Sementara itu, VOC terus mengejar dan melakukan perlawanan kepada prajurit dan pengikut Sultan Ageng yang berada di dalam kepemimpinan Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf.

5 Mei 1683, VOC mengirim Untung Surapati yang memiliki pangkat Letnan bersama prajurit Balinya dan kemudian bergabung dengan pimpinan Letnan Johannes Mauritis Van Happel untuk menundukkan kawasan Pamotan dan Dayeuh Luhur.

Akhirnya ditanggal 14 Desember 1683 VOC dan para pasukan berhasil menundukkan Syekh Yusuf. Sudah terdesak, Pangeran Purbaya pun menyerahkan dirinya. Diutus lah Untung Surapati oleh Kapten Jihan Ruisj untuk menjemput Pangeran Purbaya.

Dalam perjalanan menuju Batavia, mereka malah bertemu pasukan VOC yang dipimpin oleh Willem Kuffeler dan terjadi pertikaian. Pada tanggal 28 januari 1684, pasukan Willem Kuffeler dihancurkan oleh Untung Surapati dan pasukannya. Hal ini menyebabkan Untung surapati dan pasukannya menjadi buronan VOC. Sementara itu, pangeran Purbaya baru tiba di Batavia pada tanggal 7 februari 1684.

H. Runtuhnya Kerajaan Banten

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, setelah masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa berakhir banyak sekali terjadi konflik di internal kerajaan. Hal ini terjadi karena perlawanan sultan ageng kepada pihak belanda tidak disetujui olej Sultan Haji. Situasi ini dimanfaatkan oleh VOC untuk mengadu domba atau devide et impera.

Dengan liciknya VOC memutuskan untuk memihak kepada Sultan Haji untuk melawan Sultan Ageng Tirtayasa. Tak hanya itu, VOC juga ikut campur tangan dalam menyukseskan pemimpin di wilayah Banten serta memastikan bahwa raja yang terpilih nantinya adalah raja yang lemah da tidak akan menjadi potensi kubu perlawanan bagi mereka di kemudian hari.

Puncaknya di tahun 1680, perselisihan diantara raja semakin tak terhindarkan. Sultan Haji bersama VOC berhasil menundukkan Sultan Ageng Tirtayasa. Campur tangan dan Adu Domba pihak Belanda di dalam internal Kerajaan Banten adalah penyebab runtuhnya kerajaan ini.

I. Peninggalan Kerajaan Banten


1. Masjid Agung Banten


Masjid Agung Banten

Salah satu peninggalan kerajaan banten yang bisa dirasakan hingga saat ini adalah Masjid Agung Banten. Masjid ini dibangun pada tahun 1652 di masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin, masjid ini berlokasi di Desa Banten Lama, 10 Km utara Kota Serang. Masjid ini memiliki corak yang unik dengan nilai historis yang tinggi dan menyebabkan masjid ini ramai dikunjungi oleh para wisatawan.

2. Istana Keraton Kaibon Banten


Istana Keraton Kaibon Banten

Istana Keraton Kaibon banten ini adalah tempat tinggal ibunda Sultan Syaifudin yang bernama ratu Aisyah. Akan tetapi di tahun 1832, Banten terlibat bentrok dengan Belanda yang saat itu dipimping Daendels. Hal ini menyenbabkan bangunan tersebut runtuh, jadi saat ini kita hanya dapat melihat reruntuhannya saja.

3. Istana Keraton Surosowan Banten


Istana Keraton Surosowan Banten

Ini adalah tempat tinggal para sultan Kerajaan Banten yang sekaligus menjadi pusat pemerintahan. Bangunan ini juga bernasib sama dengan keraton kaibon, hanya tersisa kepingan runtuhan yang dapat kita jumpai sekarang ini.

4. Benteng Speelwijk


Istana Keraton Surosowan Banten

Tembok setinggi 3 meter ini adalah bukti bahwa kerajaan Banten merupakan poros utama maritim nusantara dimasa silam. Benteng ini dibangun pada tahun 1585, selain digunakan sebagai benteng pertahanan, bangunan ini juga digunakan sebagai tempat untuk mengawasi aktifitas pelayaran di sekitar Selat Sunda. Pada bagian dalam benteng ini terdapat beberapa meriam kuni seta sebuah terowongan yang terhubung dengan keraton Surosowan.

5. Danau Tasikardi


Danau Tasikardi

Danau buatan ini di garap pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusud dengan luas 5 hektar dan telah dilapisi dengan ubin dan batu bata. Danau tasikardi ini berdungsi sebagai sumber utama pasokan air bagi keluarga kerajaan yang tinggal di istana kaibon dan juga sebagai irigasi untuk persawahan di sekitar Banten.

Saat ini luas danau mengalami penyusutan karena lapisan batu bata di dasarnya telah tertimbun tanah sedimen yang terbawa arus sungai.

6. Vihara Avalokitesvara


Vihara Avalokitesvara

Walaupun kerajaan banten mayoritas pemeluk agama islam, namun toleransi yang tercipta di kerajaan itu sangatlah tinggi. Hal ini dibuktikan dengan vihara yang berana Avalokii\tesvara sebagai tempay ibadah umat Budha. Hingga saat ini, vihara ini masih kokoh berdiri. Ada yang unik dari vihara ini, pada bagian temboknya terdapat relief yang mengisahkan siluman ular putih yang melegenda kala itu.

7. Meriam Ki Amuk


Meriam Ki Amuk

Meriam ini berada di dalam bangunan benteng Speelwijk. Penamaan ki amuk karena daya ledaknya yang sangat tinggi serta jarak tembahknya sangat jauh. Konon, meriam ini merupakan hasil rampasan dari pemerintahan kolonial Belanda pada saat perang. Meriam ini merupakan merian yang unik dan paling besar yang ada di benteng Speelwijk.

8. Peninggalan Lainnya

Selain peninggalan bersejarah diatas, kerajaan banten juga meninggalkan beberpa benda seperti mahkota binokasih, keris panunggul naga, dan keris naga sasra yang hingga kini tersimpan dengan baik di dalam Museum Kota Banten.

J. Warisan Sejarah Kerajaan Banten

Setelah runtuhnya Kerajaan Banten, wilayah Banten menjadi salah satu bagian kawasan kolonialisasi. Di masa kekuasaan Hindia Belanda, Banten dijadikan keresidenan tahun 1817. Di tahun 1926 wilayah tersebut menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat.

Kejayaan Banten di masa lalu menginspirasi masyarakatnya untuk menjadikan kawasan Banten kembali menjadi satu kawasan otonomi. Reformasi Indonesia berperan dalam mendorong kawasan Banten sebagai provinsi tersendiri yang kemudian ditetapkan melalui undang-undang Nomor 23 Tahun 2000.

Masyarakat Banten sudah menjadi satu kumpulan etnik yang diwarnai perpaduan etnis-etnis yang pernah ada di masa Kesultanan Banten. Keberagaman ini pernah membawa masyarakat Banten sebagai salah satu kekuatan besar di Nusantara.

Demikianlah uraian lengkap mengenai Kerajaan Banten, semoga apa yang dijabarkan diatas bermanfaat bagi pembaca.

Referensi:
https://www.gurupendidikan.co.id/kerajaan-banten/
https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Banten
https://www.yuksinau.id/kerajaan-banten/

0 Response to "Kerajaan Banten: Sejarah, Silsilah, Raja, Kehidupan, Keruntuhan dan Peninggalan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Memuat...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Loading...