Skip to content Skip to sidebar Skip to footer
Loading...

Kerajaan Mataram Islam: Sejarah, Raja, Kehidupan Politik dan Peninggalan Lengkap

Kerajaan Mataram Islam – karena menganut ajaran islam bentuk pemerintahan berubah menjadi Kesultanan. Kesultanan Mataram adalah salah satu dari beberapa kerajaan islam yang ada di tanah jawa yang berdiri sekitar abad ke 16. Kesempatan kali ini akan kita bahas secara lengkap tentang Kerajaan Mataram Islam, Sejarah, Raja, Kehidupan Politik, dan Peninggalan.


Awal mulanya, kerajaan ini adalah pemberian dari Raja Pajang untuk Ki Ageng Pemanahan karena jasanya yang sudah berhasil mengalahkan Arya Penangsang. Disaat itu juga, kerajaan Mataram Islam masih masuk dalam wilayah kekuasaan Pajang. Kemudian sejak masa kepemimpinan Sutawijaya, kerajaan ini berdiri menjadi satu kerajaan yang independent.

A. Sejarah Kerajaan Mataram Islam


Kesultanan Mataram
(Kerajaan Mataram Islam)

1588–1681
Bendera Kerajaan Mataram Islam
Lambang Kerajaan Mataram Islam
Cakupan terluas Kesultanan Mataram dalam masa pemerintahan Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma (1613-1645)
Cakupan terluas Kesultanan Mataram dalam masa pemerintahan Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma (1613-1645)
Ibu Kota Kota Gede (1588-1613)
Karta (1613 – 1647)
Pleret (1647-1681)
Bahasa Jawa
Agama Islam
Bentuk Pemerintahan Monarki Absolut
Pendiri Ki Ageng Pemanahan
Sebelum Kerajaan Mataram Islam Kesultanan Pajang
Kerajaan Kalinyamat
Kerajaan Sumedang Larang
Sesudah Kerajaan Matara Islam Kasunanan Kartasura

Kerajaan Mataram Islam berada di wilayah Kota Gede yang merupakan hadiah pemberian dari Sultan Hadiwijaya untuk Ki Ageng Pamahanan. Hadiah ini diberikan sebagai balasan atas jasanya yang sudah berhasil mengalahkan Arya Penangsang di Jipang Panolan. Maka dari itu berdirilah kerajaan ini pada abad ke 16.

Ki Ageng Pemanahan memiliki seorang putra yang bernama Sutawijaya, ia diambil dan diangkat menjadi anak angkat oleh Sultan Hadiwijaya. Sampai tahun 1575, setelah Ki Ageng Pamanahan wafat, Sutawijaya menggantikannya sebagai bupati di kawasan Mataram.

Sutawijaya merasa menjadi seorang bupati masih sangat kurang, ia ingin menjadi raja yang dapat menguasai seluruh Jawa. Dengan begitu, Sutawijaya mulai memperkuat sistem pertahanan yang ada di dalam Kerajaan Mataram.

Akan tetapi, ambisi Sutawijaya ini tidak disukai oleh Sultan Hadiwijaya. Lalu Sultan Hadiwijaya mengirim pasukannya untuk menyerang Mataram. Di tahun 1582, peperangan tidak bisa dielakkan. Pasukan yang dikirim dari Pajang menerima kekalahan karena kala itu Sultan Hadiwijaya sedang sakit. Selang beberapa waktu setelah itu, Sultan Hadiwijaya pun wafat.

Hal ini memicu terjadinya perebutan kekuasaan diantara bangsawan di dalam Pajang. Menantu dari Sultan Hadiwijaya sekaligus Bupati Demak Pangeran Pangiri pergi menuju Pajang untuk merebut tahta kerajaan.

Hal ini tentu saja memicu pertentangan dari para bangsawan Pajang yang sudah bekerjasama dengan Sutawijaya. Dengan begitu, pangeran Pangiri beserta pasukannya dapat dipukul mundur dan diusir dari Pajang.

Setelah keadaan di kerajaan dirasa aman, Pangeran Benawan putra dari Sultan Hadiwijaya menyerahkan tahta kerajaannya kepada Sutawijaya dan memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Pajang ke Mataram di tahun 1586. Saat itulah berdirinya kerajaan yang disebut Kerajaan Mataram.

B. Silsilah Kerajaan Mataram Islam

Silsilah keluarga kerajaan ini dimulai dari Raja pertama yang mendirikan Kerajaan Mataram Islam. Raja pertamanya adalah Sutawijaya yang mulai memerintah dari tahun 1586 sampai 1601. Sutawijaya adalah putra kandung dari Ki Ageng Pamanahan, lalu dia diangkat sebagai anak oleh Sultan Hadiwijaya.

Sutawijaya mendapat gelar tambahan Senopati Ing Alaga Sayidim Panatagama. Pusat kerajaan ini awalnya berada di Kota Gede, sekarang posisinya berada di tenggara Kota Yogyakarta. Pada masa pemerintahan penembangan Senopati, Kerajaan Mataram Islam mampu menundukan para bupati yang membangkang dan berusaha melepaskan diri dari Kerajaan Mataram.

Para bupati yang mencoba melepaskan diri dari kerajaan mataram tersebut adalah Bupati Ponorogo, Kediri, Madiun, Surabaya, Pasuruan, dan Demak. Namun di tahun 1601, Penembangan Senopati wafat dan dimakamkan di Kota Gede.

Tahta selanjutnya diserahkan kepada putranya yang bernama Mas Jolang (1601-1613) yang mendapat gelar Sultan Anyakrawati. Mas Jolang mendapat perlawanan dari pemberontakan para bupati, ia wafat sebelum berhasil menundukan para bupati tahun 1613. Mas Jolang wafat di kawasan Krapyak, jadi ia lebih dikenal dengan sebutan Penembangan Seda Krapyak.

Mas Rangsang yang merupakan putra dari Mas Jolang menggantikan tahta ayahnya. Dia dikenal sebagai Sultan Aging ditahun 1613 sampai 1645. Dimasa pemerintahannya, pusat pemerintahan kerajaan yang awalnya di Kerta di pindahkan ke Plered.

Menjadi Raja Mataram Islam, Sultan Agung kembali melawan musuh lamanya yaitu Surabaya. Akan tetapi perlawanan tersebut tak dapat ditaklukkan karena Surabaya dibantu oleh Kediri, Pasuruan, dan Tuban.

Pada tahun 1615, pasukan Suarabaya mampu dipukul mundur dan dikalahkan di daerah Wirasaba (Mojokerto). Setelah penaklukan Wirasaba, Mataram kembali menaklukkan daerah lain seperti Lasem, Pasuruan, dan juga Tuban. Di tahun 1622, Sultan Agung berhasil menaklukkan Sukadana yang menjadi sekutu dari Surabaya.

Pada tahun 1624, Kerajaan Mataram Islam juga berhasil menundukan Madura. Sultan Agung wafat dan dimakamkan di Bukit Imogiri. Tahta selanjutnya diturunkan kepada putranya yang bergelar Amangkurat I. Sayangnya, Amangkurat I kurang disukai oleh masyarakat dan juga para ulama dikarenakan sifatnya yang kurang baik.

Oleh karena itu, para bupati memutuskan untuk melepaskan diri dan mendorong mangkurat untuk bersekutu dengan VOC.

C. Raja-raja Kerajaan Mataram Islam

Dibawah ini adalah penjelasan tentang 6 orang raja yang pernah memimpin Kerajaan Mataram.

1. Ki Ageng Pamanahan

Ia adalah pendiri sekaligus raja pertama dari Kerajaan Mataram Islam dari desa Mataram pada tahun 1556. Dari Desa Mataram inilah awal mula wilayah Kerajaan Mataram pertama yang dipimpin oleh anaknya Sutawijaya.

Desa Mataram dahulunya merupakan kawasan hutan lebat yang kemudian dibersihkan oleh penduduk sekitar dan diberi nama Alas Mentaok. Selanjutnya, Ki Ageng Pamanahan membuat daerah tersebut menjadi kawasan Mataram. Ki Ageng Pamanahan meninggal tahun 1584 dan dimakamkan di Kota Gede (sekarang disebut Jogjakarta).

2. Panembahan Senapati

Panembahan Senapati atau Sutawijaya adalah putra dari Ki Ageng Pamanahan, Ia menggantikan tahta kekuasaan ayahnya. Sutawijaya juga seorang menantu sekaligus anak angkat dari Sultan Hadiwijaya.
Awalnya, Sutawijaya adalah senapati dari kerajaan Pajang, oleh karena itu ia mempunya gelar “Panembahan Senapati”.

Kerajaan Mataram Islam makin bangkit dibawah kepemimpinan Panembahan Senapati. Bahkan dimasa kepemimpinannya ia mampu memperluas wilayah kekuasaan kerajaan dari Pajang, Demak, Tuban, Madium, Pasuruan, dan sebagian besar wilayah Surabaya.

Di tahun 1523, Sutawijaya wafat dan kemudian posisinya digantikan oleh putranya yang bernama Mas Jolang.

3. Raden Mas Jolang

Raden Mas Jolang memiliki nama asli Panembahan Anyakrawati adalah putra dari pasangan Panembahan Senapati dan Ki Agen Panjawi sang penguasa Pati. Ia adalah pewaris tahta kedua dari kerajaan Mataram Islam yang memimpin kerajaan dari tahun 1606 sampai 1613 selama 12 tahun.

Dimasa pemerintahannya banyak sekali terjadi peperangan yang tidak bisa dielakkan. Peperangan ini disebabkan oleh upaya penaklukkan wilayah dan mempertahankan wilayah kerajaan. Raden Mas Jolang kemudian wafat pada tahun 1613 di desa Krapyak dan dimakamkan di dekat makam ayahnya di daerah makam Pasar Gede.

4. Raden Mas Rangsang

Setelah wafatnya Raden Mas Jolang, Kerajaan mataram Islam digantikan oleh putranya Raden Mas Rangsang. Beliau mendapat gelar Sultan Agung Senapati Ingalaga Ngabdurarachman, ia memerintah Kerajaan dari tahun 1613 hingga 1645.

Pada masa pemerintahannya inilah Keajaan Mataram Islam mencampai puncak Kejayaan. Hal ini dikarenakan ia mampu menguasai hampir seluruh wilayah Tanah Jawa seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat.

Selain berhasil menaklukkan tanah Jawa, Sultan Agung juga berhasil mengalahkan VOC yang ingin merebut Jawa dan Batavia. Dimasa ini juga Kerajaan Mataram Islam berkembang menjadi Kerajaan Agraris. Raden Mas Rangsang akhirnya wafat di tahun 1645 dan dimakankan di Imogiri.

5. Amangkurat I

Amangkurat I (Sultan Amangkurat) adalah putra dari Sultan Ageng. Ia memerintah kerajaan dari tahun 1638 sampai 1647. Ketika memerintah kerajaan, ia memindahkan pusat kerajinan dari kota Gede ke Keraton Plered di tahun 1647. Pada masa pemerintahannya juga Kerajaan mengalami perpecahan. Hal ini akibat dari Sultan Amangkurat I menjadi teman VOC.

Sultan Amangkurat I akhirnya wafat di tahun 1677 dan dimakamkan di Telagawangi, Tegal. Sebelum beliau meninggal, ia sempat berwasiat kepada Sunan Mataram atau Amangkurat II untuk menjadi penerusnya.

6. Amangkurat II

Amangkurat II (Raden Mas Rahmat) adalah raja sekaligus pendiri dari Kasunanan Kartasura. Kasunanan Kartasutra adalah lanjutan dari Kerajaan Mataram Islam. Beliau memerintah dari tahun 1677 sampai 1703.

Amangkurat II adalah raja pertama Kerajaan Mataram Islam yang mengenakan pakaian eropa sebagai pakaian dinas. Karena gaya berpakaiannya, ia disebut oleh masyarakat sebagai Sunan Amral (Admiral).

D. Kehidupan Politik Kerajaan Mataram Islam

Setelah berhasil memindahkan pusat pemerintahan dari Kerajaan Pajang ke Mataram, selanjutnya Sutawijaya diangkat menjadi Raja Mataram. Beliau mendapat gelar Panembahan Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama atau yang lebih dikenal dengan sebutan Panembahan Senapati.

Sutawijaya mulai memerintah pada tahun 1586, dimasa pemerintahannya banyak sekali terjadi pemberontakan dibagian pesisir pantai utara Jawa. Ada banyak wilayah yang menentang Senapati untuk memperluas wilayah kerajaan. Hal ini dikarenakan Panembahan Senapati berhasil menundukkan wilayah sampai ke Surabaya, Madiun, Pasuruan, Ponogoro, Blambangan, Panarukan, Galuh, dan juga Cirebon.

Senapati selalu berusaha mencegah dan menundukkan para bupati yang mempunyai niat untuk menentang dan juga lepas dari kerajaan. Ditahun 1595, daerah Galuh dan juga Cirebon berhasil ditaklukkan oleh Kerajaan Mataram Islam.

Sampai diakhir masa kepemimpinan Panembahan Senapati, Kerajaan Mataram Islam berhasil memperluas wilayah kekuasaan mulai dari Pasuruan, Jawa Timur sampai Galuh, dan Jawa Barat.

E. Kehidupan Ekonomi Kerajaan Mataram Islam

Letak geografis Kerajaan Mataram Islam berada di pedalaman tanah Jawa, jadi kondisi perekonomian waktu itu lebih banyak mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber utamanya. Basis utama pertaniannya berada di Jawa Tengah dengan komoditas utamanya berupa beras. Sekitar abad ke 17, kerajaan Mataram Islam mampu menjadi pengekspor beras terbesar yang ada di Nusantara.

Selain bertumpu pada sektor pertanian, Kerajaan Mataram Islam juga berhasil dalam sektor perdagangan dengan komoditi utama berupa palawija dan juga beras. Ada ciri kehidupan dari Kerajaan Mataram Islam yakni menganut sistem feodal yang berdasar atas sistem agraris. Dimana para pejabat dan bangsawan diberikan imbalan berupa tanah lungguh dengan tujuan untuk dijadikan sebagai sumber utama ekonomi.

Selanjutnya, tanah lungguh tadi digarap oleh masyarakat sekitar yang berniat untuk menyerahkan sebagian hasil dari pertaniannya kepada penguasa sebagai sebuah imbalan. Bentuk ikatan yang terjadi antara rakyat dan juga bangsawan yang disebut sebagai sistem patron-klien.

F. Kehidupan Sosial dan Budaya Kerajaan Mataram Islam


Kehidupan Sosial
Dimasa Kerajaan Mataram Islam, kehidupan masyarakatnya sudah tertata dengan baik dan didasarkan pada hukum islam tanpa meninggalkan norma-norma lama. Didalam sistem pemerintahannya, raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi, kemudian diikuti sejumlah petinggi kerajaan lainnya.

Sedangkan dalam bidang keagamaan ada penghulu, khotib, naid, serta surantana yang memiliki tugas dalam memimpin kegiatan upacara-upacara keagamaan.

Untuk bidang pengadilan terdapat jabatan jaksa yang memiliki tugas dalam menjalankan segala bentuk pengadilan didalam kerajaan atau istana. Agar terciptanya ketertiban diseluruh area kerajaan, maka diciptakanlah sebuah peraturan yang disebut dengan anger-anger yang harus dipatuhi oleh seluruh penduduk wilayah kerajaan.

Kehidupan Kebudayaan
Kerajaan Matara Islam memiliki perbedaan corak budaya dengan kerajaan islam lainnya. Pada umumnya kerajaan islam memiliki corak maritim karena letaknya dekat dengan pelabuhan. Sedangkan Kerajaan Mataram Islam lebih kepada corak agraris yang memiliki ciri feodal.

Raja adalah pemilik seluruh tanah yang ada di wilayah kerajaan beserta segala isi yang ada di dalamnya. Sedangkan sultan memiliki peran untuk menata agama atau pengatur dalam kehidupan beragama islam bagi masyarakatnya.

Kehidupan budaya di dalam Kerajaan Mataram Islam berkembang pesat, khusunya dalam bidang seni seperti seni sastra, seni ukir, seni lukis, dan seni bangunan (arsitekur). Pada masa pemerintahan Sultan Agung, sistem penanggalan telah berubah dari perhitungan Jawa Hindu atau Saka menjadi penanggalan Islam atau Hijriah. Perhitungan tanggal hijriah ini didasarkan pada peredaran bulan dan hal ini dimulai sejak tahun 1633.

Bukan hanya itu, Sultan Agung juga menyusun sebuah karya sastra yang sangat terkenal yakni kitab sastra Gending. Beliau juga menyusun kitab undang-undang baru yang digunakan sebagai panduan kerajaan. Undang-undang tersebut berasal dari hukum islam dengan hukum adat jawa yang lebih dikenal dengan Hukum Surya Alam.

G. Masa Kejayaan Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam mencapai puncak kejayaan di masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo dari tahun 1613 sampai 1646. Dimasa kekuasaannya, wilayah kerajaan mencakup Pulau Jawa (kecuali Banten dan Batavia), Pulau Madura, dan daerah Sukadana di Kalimantan Barat.

Ketika itu, wilayah Batavia dikuasai oleh pihak VOC (Belanda). Oleh sebab itu, kekuatan militer kerajaan Mataram membesar karena rasa anti kolonialisme yang tinggi. Di tahun 1628 – 1629, kerajaan Mataram Islam menyerang VOC di Batavia.

Berdasarkan pendapat dari Moejanto, seperti yang dikutip oleh Purwadi di tahun 2007. Sultan Agung menggunakan konsep politik keagungan bintara yang memiliki arti bahwa Kerajaan Mataram harus berupa ketunggalan, utuh, bulat, tidak tersaingi, dan tidak terbagi-bagi.

H. Terpecahnya Kerajaan Mataram Islam


Terpecahnya Kerajaan Mataram Islam

Sultan Amangkurat I memindahkan lokasi kerajaan ke Plered (1647), lokasinya tidak jauh dari Karta. Selain itu, ia juga tidak menggunakan gelar sultan, melainkan “sunan” (dari “Susuhanan” atau “yang dipertuan”). Dimasa pemerintahan Amangkurat I banyak terjadi pemberontakan dan ketidakpuasan yang membuat kerajaan jadi tidak stabil.

Pemberontakan ini menyebabkan Amangkurat bersekutu dengan VOC. Beliau kemudian wafat di Tegalarum tahun 1677 ketika mengungsi. Beliau digantikan oleh Amangkurat II, Amangkurat II sangat patuh terhadap VOC dan membuat kalangan istana banyak yang tidak puas dan pemberontakan terus berlanjut.

Image deskripsi : Peta Mataram Baru yang telah dipecah menjadi empat kerajaan pada tahun 1830, setelah Perang Diponegoro. Pada peta ini terlihat bahwa Kasunanan Surakarta memiliki banyak enklave di wilayah Kasultanan Yogyakarta dan wilayah Belanda. Mangkunagaran juga memiliki sebuah enklave di Yogyakarta. Kelak enklave-enklave ini dihapus.

Dimasa Amngkurat II, keraton dipindahkan lagi ke Kartasura tahun 1680, sekitar 5 Km sebelah barat Pajang. Hal ini dilakukan karena kraton yang lama dianggap sudah tercemar.

Amangkurat II berturut-turut digantikan oleh Amangkurat III (1703 – 1708), Pakubuwana (1704 – 1719), Amangkurat IV (1719 – 1726), Pakubuwana II (1726-1749). Dianggap menentang VOC, Amangkurat III tidak disukai VOC dan membuat VOC mengangkat Pakubuwana I sebagai raja.

Dengan begitu, Mataram memiliki dua orang raja dan ini menimbulkan perpecahan internal. Amangkurat III melakukan pemberontakan dan menjadi “king ini exile” sampai tertangkap di Batavia dan dibuang ke Ceylon (Sebutan dunia internasional untuk Sri Lanka).

Kekacauan politik akhirnya bisa diselesaikan di masa Pakubuwana II, setelah pembagian wilayah Mataram menjadi dua yakni; Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta pada tangga 13 Februaru 1755. Pembagian wilayah ini terdapat dalam Perjanjian Giyanti.

Dengan dibaginya wilayah Mataram, maka berakhirlah era Kerajaan Mataram Islam sebagai satu kesatuan politik dan wilayah. Meski demikian, sebagian masyarakat Jawa beranggapan kalau Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta merupakan “ahli waris” dari Kerajaan Matara Islam.

I. Runtuhnya Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam mulai mengalami keruntuhan pada saat mengalai kekalahan dalam misi merebut Batavia dari Belanda. Setelah kalah dalam misi, kehidupan ekonomi masyarakat kerajaan dilalaikan karena sebagain besar rakyat dikerahkan untuk perang.

Permusuhan dan dendam dari Wangsa Sailendra terhadap Jawa terus menerus berlanjut hingga Wangsa Isana berkuasa. Ketika Mpu Sindok memulai periode pemerintahannya di Jawa Timur, pasukan Sriwijaya datang menyerangnya.

Pertempuran pun tak bisa dielakkan dan terjadi di daerah Anjukladang yang sekarang dikenal dengan Nganjuk, Jawa Timur. Pertempuran ini akhirnya dimenangkan oleh pihak Mpu Sindok.

J. Peninggalan Kerajaan Mataram Islam

Sebagai kerajaan yang dulu pernah berdiri megah pastinya memiliki benda-benda peninggalan. Benda-benda tersebut adalah bukti bisu dan bukti sejarah Kerajaan Mataram Islam. Berikut adalah beberapa peninggalan tersebut:

  1. Sastra Ghending karya Sultan Agung,
  2. Tahun Saka
  3. Kerajinan Perak
  4. Kalang Obong, yaitu tradisi kematian orang kalang dengan cara membakar beberapa peninggalan orang yang telah meninggal
  5. Kue kipo adalah makanan khas masyarakat kota gede, makanan ini konon katanya telah ada sejak jaman kerajaan mataram islam
  6. Pertapaan Kembang Lampir, tempat Ki Ageng Pemanahan bertapa untuk mendapatkan wahyu kerajaan Mataram Islam
  7. Segara Wana dan Syuh Brata, yaitu meriam-meriam yang diberikan oleh Belanda atas perjanjiannya dengan kerjaan Mataram saat masa kepemimpinan Sultan Agung.
  8. Puing – puing candi Hindu dan Budha yang terdapat di aliran Sungai Opak dan juga aliran sungai Progo
  9. Batu Datar yang terletak di Lipura lokasinya tak jauh di barat daya kota Yogyakarta
  10. Pakaian Kiai Gundil atau lebih dikenal sebagai Kiai Antakusuma
  11. Masjid Agung Negara yang dibangun pada tahun 1763 oleh PB III.
  12. Masjid Jami Pakuncen yang didirikan oleh sunan Amangkurat I
  13. Gapura Makam Kota Gede, yang merupakan perpaduan antara corak hindu dan islam.
  14. Masjid yang berada di Makam Kota Gede.
  15. Bangsal Duda
  16. Rumah Kalang
  17. Makam dari Raja- Raja Mataram yang berlokasi di Imogiri
  18. Gerbang Makam Kota Gede

Demikianlah ulasan lengkap tentang Kerajaan Mataram Islam, Baca juga mengenai sejarah Kerajaan Mataram Kuno. Semoga dapat membantu kegiatan belajar anda. Semoga bermanfaat dan terimakasih.

Post a Comment for "Kerajaan Mataram Islam: Sejarah, Raja, Kehidupan Politik dan Peninggalan Lengkap"

Memuat...
Loading...